Penjual Koran Simpang Empat BI Mataram Pergi Umroh

Barang siapa yang mengangankan sesuatu (Kepada Allah), maka perbanyaklah angan-angan tersebut. Karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla (HR. Ibnu Hibban No 889 disahihkan oleh Syekh Al Bani)

Tidak semua bentuk angan-angan manusia dilarang oleh Allah Subhana Wa Taála, termasuk angan-angan pergi bertamu ke tanah suci. Inilah yang dialami oleh kakek yang berusia diatas 70 an tahun ini, melihat orang-orang yang sudah menuaikan panggilan Allah pergi ke tanah suci dalam rangka mengerjakan ibadah Umroh, menjadikan kakek ini termotivasi.

Berjualan koran sejak tahun 2000 menjadi pekerjaan rutinitas yang tiada henti dan tidak mengenal kata libur. Setiap hari selalu terlihat di salah satu perempatan yang ada di Kota Mataram. Perempatan antara Bank Indonesia dan Islamic Center menjadi lokasi beliau menjajakan koran yang berisi berbagai macam berita hangat. Kakek ini menjual korannya dengan harga lima ribu rupiah.

Mungkin ada diantara teman-teman yang pernah sesekali membeli koran di kakek ini atau hanya sekedar melihatnya dipersimpangan jalan. Kakek ini tak begitu banyak bicara saat berjualan, palingan hanya menunjukkan jualannya disetiap penguna jalan. Sesekali senyum tipisnya yang merayu kala menjajakan korannya terlihat jelas memanjakan para konsumen. Itulah yang terlihat dari kakek penjual koran ini.

Akhirnya, angan-angan yang beliau pernah tanam dalam benak kini menjadi kenyataan. Lewat usaha berjualan koran setiap hari beliau mampu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk dikumpulkan sebagai ongkos memenuhi pangilan Allah berkunjung ke tanah suci Makkah untuk beribadah (Umrah). Setiap hari, uang dengan nominal Rp. 35.000 ia sisihkan, begitu satu bulan kemudian ia setor untuk di tabung sebagai bekal pergi umrah.

Atas izin Allah, angan-angan ini terjawab. Kakek yang akrab di panggil Pak Sinarep sudah menginjakkan kakinya di tanah yang memilki keutamaan yang sangat luar biasa. Bayangkan jika kita beribadah di dua rumah Allah ini (Makkah dan Madinah) yang ganjaran pahalanya beribu-ribu kali lipat dibandingkan tempat lain. Sepulang dari tanah suci, beliau berjanji akan lebih rajin lagi untuk mengumpulkan uang agar kelak bisa datang kembali bertamu ke tanah suci.

Ini merupakan tamparan keras bagi kita yang mampu tapi tidak merasa mampu. Bayangkan saja dengan penghasilan pas-pasan si kakek mampu menabung. Coba kita renungkan dalam-dalam kira-kira besaran pengeluaran kita untuk kuota internet dengan apa yang kakek ini tabung sama tidak. Atau berapa uang yang kita bakar tiap hari. Seandainya uang itu kita gunakan untuk menabung dan memilki niatan yang kuat dalam hati, insya Allah kita bisa seperti apa yang dilakukan oleh si kakek.

Kakek ini menunggu sejak tahun 2000 dan Allah mengabulkan doanya tahun ini (2019). Sembilan belas tahun lamanya beliau menunggu dengan kesabaran dan upaya yang sungguh-sungguh.

Berdoalah kepada Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada ku akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam (QS: Ghafir. 60)

Mulailah saat ini kita berjanji dalam hati untuk bersunguh-sunguh menanamkan niat ingin berkunjung ke tanah yang penuh keberkahan. Mari kita jadikan motivasi kisah perjalanan Pak Sinarep dalam memenuhi panggilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala [SR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *