MENYIMAK KEWARASAN PARA PENDUKUNG CALON GUBERNUR DAN BUPATI DI GRUP SOSMED POLITIK NTB

Pelecing, masakan khas Suku Sasak yang terbuat dari kangkung ini, kalau kurang pedes mana enak! Sama halnya dengan dunia politik NTB saat ini yang pedes-pedes gimanaa gitu. Saya bilang begini karena ada sebuah pengalaman yang cukup bikin gereget lah ya. Pengalaman ini lahir dari sebuah grup media sosial yang mengupas tuntas dunia perpolitikan NTB. Jangan tanya soal gimana rasanya bergabung dan ikut nimbrung di diskusi, karena pertama kali masuk saja (sekitar sebulan lalu) saya sudah langsung dibuat geli dengan komentar-komentar “lucu” para penghuni grup. Argumentasi para pengamat politik dan warganet lainnya seolah menjadi bumbu-bumbu penyedap diskusi dalam grup itu. Apalagi, 2018 yang dinanti-nanti sebagai tahun perayaan pesta demokrasi sudah di depan mata. Wah.. rasa-rasanya harus siap-siap meluncur ke medan pertempuran argumentasi. Haha..

Mengingat tahun 2018 sudah tiba, sebuah topik hangat yang selalu menjadi sajian grup politik tersebut adalah Pemilu Gubernur dan Bupati yang akan diselenggarakan serentak pada Bulan Juni mendatang. Kalau sudah ngomongin pemilu, bisa ditebak kan argumentasi apa saja dan dari siapa saja yang terlibat di diskusi? Iya, sudah pasti jawabannya adalah para pendukung bakal calon yang mendominasi diskusi. Malah sampai menimbulkan perdebatan. Lucu kan ya? Status masih bakal calon tapi sudah diperdebatkan sampai ke Z, kan belum tentu lolos jadi calon.

Karena diskusi dalam grup tersebut adalah diskusi lucu yang tidak wajar bagi saya, jadi saya sempat berpikir untuk keluar saja. Tapi setelah saya berpikir lagi, sayang juga kalau keluar. Karena selain untuk update informasi, grup ini juga bisa lho sebagai media yang menghilangkan rasa suntuk. Jarang tuh ada hiburan gratis dengan melihat keterlampauwarasan (???) para pendukung bakal calon, terutama, yang setiap menitnya saling hujat dan saling menjatuhkan seakan-akan menandingi kepintaran jagoan yang ia dukung, meski ada banyak juga sih para pendukung yang masih menjaga kedewasaannya.

Sebagai seorang warga yang lahir dan tumbuh di tanah NTB ini, saya patut bersyukur dengan adanya grup tersebut. Karena itu menunjukkan bentuk kepedulian para penghuni grup terhadap kondisi politik di NTB khususnya. Harap saya, kalau bisa seluruh penghuni dunia maya yang berasal dari NTB harus ikut aktif dalam dialog grup yang sengaja dibuat untuk menampung aspirasi masyarakat. Jika ditelisik lebih dalam lagi, ternyata yang bergabung dalam grup ini tidak hanya dari kalangan pelajar atau mahasiswa saja, dari pemerintah hingga pengamat politik juga ada dalam deretan anggota.

Semakin hari, aroma kemeriahan pesta demokrasi di NTB semakin terrasa, walaupun saat ini masih dalam proses verifikasi para bakal calon yang melalui jalur independen dan belum juga dibukanya pendaftaran melalui jalur partai. Saya berharap kemeriahan yang akan digelar di NTB, akan senada dengan kemeriahan di Jakarta kala pemilihan Gubernurnya. Saat pemilihan di Jakarta, saya melihat keterlibatan hampir semua warganya dan bisa dikatakan persentasi golput tidak begitu tinggi. Nah.. ini salah satu yang akan menjadi kebahagiaan tersendiri saat semua warga turut menyalurkan hak suaranya.

Tidak terhenti dari harapan kemeriahan pemilu di NTB yang tertular dari DKI, di sisi lain saya juga berharap kepada semua pendukung fanatik setiap bakal calon agar lebih relevan dalam menyampaikan hajatan bakal calon yang dijagokan. [SR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *