Lingkungan

Mempromosikan atau Merusak Alam

 

“Semakin gencar kita mempromosikan alam secara tidak langsung kerusakan ada didepan mata”

Kalimat di atas mulai terpikir ketika saya melihat tayangan sebuah aksi promosi wisata. Dalam tayangan wisata tersebut menyuguhkan betapa indahnya alam yang dimiliki Lombok, lokasi yang jarang orang ketahui dengan hiasan pantai, tebing dan deburan ombak yang senatiasa membasahi pasir dengan beragam corak mulai dari putih hingga pasir dengan warna pink. Promosi sejatinya bertujuan memberikan informasi kepada khalayak ramai untuk menarik daya minat sesorang agar datang ke lokasi tersebut.

Bukan saja iklan dalam bentuk video. Sebuah tulisan yang mengambarkan, ke indahan alam dan menceritakan keseruan secara detail juga sering dilakukan, dengan tujuan yang sama. Saya juga sering menceritakan dan berbagi pengalaman  lewat tulisan dengan menonjolkan keindahan yang sering saya jumpai. Kita tidak terlepas dengan hal itu. Yang jadi permasalahan adalah ketika tulisan atau video yang kita share dan dilihat atau dibaca banyak orang dan mulai tertarik kemudian berdatangan tanpa bekal cinta, inilah yang membuat saya tekadang merasa bersalah. Mungkin bukan saya saja yang merasa bersalah, banyak diantara blogger juga merasakan hal yang sama dengan saya.

Munculnya keperihatinan ini berawal dari beberapa lokasi cantik yang kini tinggal mengenang sebuah nama. Pantai misalnya,  kini mulai tercemar oleh kurang waras nya para penikmat alam yang merusak nya dengan sampah. Saya tidak mengatakan perkara kurang sadar, akan tetapi lebih pada ketidak warasan saja. Orang yang tidak waras berarti ada gangguan kejiwaan. Orang yang membuang sampah tanpa memikirkan dampak yang iya lakukan tentu mereka bukan tidak sadar akan hal itu. Saya yakin seyakin-yakinnya pasti ada rasa kesadarannya, tapi sayangnya jiwanya yang sudah sakit. Itulah mengapa saya mengatakan mereka tidak waras.

Beberapa bulan yang lalu beredar di surat kabar dan sosial media akan ancaman besar yang melanda Gunung Rinjani. Di surat kabar tersebut tertulis jelas bahwa saat ini gunung yang menjadi kebanggaan masyarakat Lombok menjadi bak sampah raksasa. Sampah dibawa dari bawah dan ditinggalkan begitu saja, mereka pulang hanya membawa sebuah kenangan dari photo pilihan dan view yang indah. Terkadang saya berpikir, begitu murahkah harga diri Rinjani?. Pertanyaan ini mengambarkan tidak ada harga nya view yang indah di barter dengan jutaan ton sampah.

Saya yakin mereka yang menikmati keindahan ciptaan yang maha kuasa ini orang-orang yang terpelajar. Begitu juga kalian meyakini apa yang saya yakini. Tidak hanya Rinjani. Dibeberapa tempat wisata yang sering kita bangga-banggakan mengalami hal serupa.

Masih teringat ketika akhir tahun 2015 pernah ada tulisan yang bunyinya kurang lebih seperti ini “jangan share tempat indah nanti dirusak sama orang alay” kalimat ini mengingatkan saya juga ketika ratusan bunga yang indah nan cantik rata dengan tanah, dikarenakan terinjak oleh orang-orang yang mengatas namakan dirinya sebagai pemburu ke eksisan.

Dua dimensi yang selalu bertentangan. Ketika kita mempromosikan wisata pasti ada tujuan utama, ya… seperti membantu pemerintah mendatangkan pendapatan dan menciptakan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Tapi di sisi lain semakin kita gencar meneriakkan hal tersebut justru menjadi bumerang bagi lokasi tersebut.

Menurut saya, Ini bukan mengenai sebuah perkara fasilitas seperti ketersediaan bak sampah dan lain sebagainya. Ini sebuah perkara kejiwaan. Saya yakin juga setiap mereka yang berkunjung memiliki kesadaran. Bahkan agama saya mengajarkan hal tersebut. Kebetulan saya seorang muslim. Sudah dijelaskan dengan panjang lebar mengenai orang-orang yang merusak alam. Ada sebuah hadist yang mengatakan bahwa Allah menyukai hal-hal yang bersih dan indah. Berarti kalau mereka yang mengotori lokasi bersih dan merusaknya, secara tidak langsung Allah membencinya. Saya percaya bahwa mereka juga meyakini apa yang saya yakini. Kembali lagi saya menegaskan, ini bukan perkara kesadaran tapi kejiwaan.

Setiap tulisan yang saya tulis mengenai lokasi wisata selalu berpesan tidak ada yang melarang kita menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan, kita akan salah ketika kita merusaknya karena hal-hal sepele menurut kalian tapi berdampak besar bagi alam.

Sudah banyak penelitian dengan hasil-hasil teruji menceritakan kita akan dampak sampah pada kehidupan kita, baik di laut maupun di darat. Berbicara mengenai sampah yang ada di lautan, saya memiliki pengalaman. Waktu itu saya berkunjung ke suatu tempat yang sekarang lagi gencar-gencarnya dipromosikan, setiap sudut lokasi diberikan bak sampah. Tapi saya heran bukan karena banyaknya bak sampahnya, heran melihat sampah yang tertumpuk di bawah bak sampah yang disediakan. Dan yang lebih kejam lagi sampah bergeletakan dan dibuang di pinggir pantai. Sampai kapan juga laut ini kita jadikan bak sampah.

Seandainya kita berpikir bahwa ke indahan alam yang kita miliki menjadi harta yang tidak ternilai bagi daerah kita pasti kita akan menjaganya. Andai saja kita berpikir bagaimana generasi penerus kita, entah itu anak cucu kita  bisa melihat indah nya alam yang kita lihat dan rasakan ketika masih muda. Tapi kita jarang berpikir seperti itu.

Saya yakin banyak dari mereka yang tidak waras berpikir bahwa keindahan alam ini bagaikan emas yang diburu dengan keangkuhan tanpa melihat keberlanjutannya. Mereka hanya asyik menggali tanpa berpikir bagaimana cara menutup galian tersebut.

Kegelisahan saya akan dampak negatif pariwisata di Lombok membuat saya terkadang menghindar dari yang namanya mempromosikan. Ini suatu ke serba salahan yang hingga saat ini mulai menghantui pikiran saya.

“Setelah menjual alam, budaya dan agama kita sendiri, kita pun sangat malas untuk sekedar membuang sampah kita sendiri”

Saya setuju sama apa yang dikatakan oleh Mbk Ziadah dalam sebuah tulisan yang ditulis dalam blog pribadinya ziadahsjournal.blogspot.com . Benar sekali bahkan kita hanya sekedar menikmati alam bukan belajar bagaimana menjadi seorang pencinta alam.

Sampai kapan kita akan mengotori alam kita sendiri? Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban tapi menginginkan suatu tindakan, bukan membutuhkan teori  karena perkara seperti ini tidak butuh sebuah penjelasan atas alasan. Selamat berlibur dan selamat menikmati. [SR]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *