Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Menghijaukan Bumi

Belakangan ini cuaca terasa panas, dan hujan yang tidak kunjung datang. Inilah dampak dari perubahan iklim yang sedang terjadi, hampir semua makhluk hidup kena dampaknya.  Bagaimana tidak faktor pemicu terjadinya pemanasan global ini dipicu oleh pengerusakan  hutan yang semakin merajarela.  Rusak nya hutan ini diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk yang tiap tahunnya bertambah. Untuk mencukupi kebutuhan akan manusia, alam dikorbankan, mulai dari alih fungsi lahan hingga ekploitasi besar besaran hingga merambah ke areal yang sejatinya di lindungi. Inilah rantai permasalahan yang sulit untuk ditemukan titik terangnya.

Alih fungsi lahan yang kita jumpai berupa lahan hutan disulap menjadi lahan pertanian, hingga pertambangan. Sedangkan lahan pertanian yang produktif digantikan dengan lahan beton. jika ini terus terjadi, kita tidak heran sebagai penduduk planet bumi ini akan merasakan dampak nyata ditimbulkan oleh prilaku manusia itu sendiri. Kebutuhan masyarakat dan semakin kurangnya pekerjaan, menyebabkan masyarakat melakukan hal demikian.

Mau tidak mau, kita sebagai penduduk bumi sudah mulai memikirkan langkah kedepan untuk mengatasi persoalan ini. hampir 15 miliar pohon setiap tahunnya hilang diakibatkan oleh penebangan secara ilegal.  Jika kita telusuri lebih mendalam, keberadaan pohon ini menjadi tumpuan keberlangsungan hidup seluruh organisme. Bagaimana tidak, jika pohon terjaga, baik yang di hutan maupun di arela non hutan akan menciptakan sumber-sumber kehidupan misalnya, mata air, rantai makanan yang tetap berlangsung sehingga menangkal hilangnya spesies, serta memberikan ruang bagi satwa. Masih banyak lagi manfaat jika ada pohon.

Menghijaukan bumi dengan pohon, juga membantu manusia dalam menyerap, gas polutan misal CO2, nitrogen oksida, amonia, dan sulfur dioksida. Kita bisa merasakan jika ditempat kita banyak pepohonan udara terasa sejuk dan segar.

Penghijaun memang menjadi cara yang tepat untuk mengatasi persoalan ini, akan lebih kuatnya lagi jika masyarakat, baik di pinggir hutan maupun masyarakat pada umumnya diberikan pemahaman tentang dampak buruk jika lingkungan kita rusak. Saya menyebutnya dengan istilah Transfer Knowledge (TK). Kegiatan TK ini memiliki sasaran yang luas, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.

Dalam beberapa bulan lalu kami pernah mengadakan kegiatan sosialisasi dan peraktik langsung dalam rangka mengkampanyakan bagimana cara menghijaukan bumi. Anak-anak perlu ditanamkan sebuah pemahaman tentang hal ini, karena menurut saya mengajarkan anak dari kecil akan terbiasa hingga dewasa. Saya punya pengalaman bersama anak-anak taman baca yang saya bina, ketika melihat orang tuanya membuang sampah sembarangan tanpa diintruksikan anak ini berani menegur orang tuanya. Transfer Knowledge menjadi media yang efektif untuk merubah pola pandang masyarakat mengenai menanam pohon maupun bagimana menjaganya lingkungan.

Ini solusi terkahir yang saya rasakan dampaknya. Dampak  yang begitu besar bagi kelestarian hutan yaitu dengan membuat atau menjalankan aturan-aturan masyarakat itu sendiri, yang dinamakan awik-awik. Keberadaan awik-awik ini dipandang jauh lebih tinggi kekuatannya di bandingkan hukum pemerintah yang berlaku. Bagi masyarakat yang melanggar awik-awik sanksi yang diberikan beragam, mulai dari yang ringan hingga berat. Awik-awik yang masih berlaku di daerah saya di Pulau Lombok mengenai pengaturan hutan. Barang siapa yang menebang pohon akan dikenakan sanksi berupa satu ekor kerbau. Seperti itulah sanksi yang diberikan bagi pelaku yang merusak alam.[BM]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *