PUTRAWAN HABIBI: MEMBANGUN DESA, HARUS TAU DESA ITU SEPERTI APA

Dalam masa kampanye berbagai cara dilakukan oleh para pasangan calon, mulai dari mengumpulkan massa pendukung di tengah lapangan, hingga blusukan ke setiap daerah atau ke rumah-rumah penduduk. Seperti halnya pasangan calon nomor urut 2, Ali Masadi dan Putrawan Habibi lebih memilih blusukan dari pada mengumpulkan masa di tengah lapangan.

Calon wakil bupati nomor urut 2, Putrawan Habibi, pada Hari Senin kemarin menyempatkan diri untuk menemui sejumlah kelompok pemuda yang ada di Kecamatan Pringgabaya. Beliau mengunjungi kelompok pemuda guna mendengarkan permasalahan yang dihadapi oleh pemuda. Salah satu yang menjadi permasalahan dan bahkan menjadi isu dunia yaitu penanganan masalah sampah. Sejumlah anak muda yang mulai berkumpul mempersoalkan serangan sampah yang semakin hari kian menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat terutama dalam hal kesehatan. Bukan hanya masalah ssampah, anak muda juga seolah-olah memberikan instruksi terkait permasalahan para petani yang tak kunjung menemui jawaban. Setelah beberapa pemuda menyampaikan permasalahan yang sedang dihadapi, Habibi, calon wakil bupati Lombok Timur mulai merespon apa yang menjadi permasalahan.

Kecamatan Pringgabaya adalah salah satu dari sekian daerah pelosok yang dikunjungi Habibi guna melihat langsung kondisi yang ada. Di tengah perjalanan blusukan, Habibi melihat tumpukan sampah di mana-mana. “ini merupakan modal besar untuk mensejahterakan masyarakat, sampah bisa diolah dan menghasilkan jaminan kesehatan, pendidikan bagi masyarakat, nantinya tidak akan ada lagi tumpukan sampah di jalan-jalan, sungai bahkan laut”, ungkap Habibi.

Sambil mengendarai sepeda motornya, Habibi memperhatikan potensi wilayah sekeliling.  Hamparan lahan kering yang luas menjadi pemandangan yang menarik perhatiannya. “Padahal lahan kering jika dikelola dengan baik akan menghasilkan hasil pertanian yang melebihi lahan basah (sawah), banyak hal yang dapat dikembangkan pada lahan kering yang tidak bisa dijumpai di lahan basah”, ujarnya.

Lahan kering seringkali diidentikkan dengan lahan yang tandus dan dipandang tidak berguna bagi sebagian orang, sehingga terkesan tidak bermanfaat untuk dijadikan sebagai tempat bercocok tanam. Inilah sebabnya mengapa lahan kering ditinggalkan dan tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Memang, jika dilihat dari struktur tanah, kawasan lahan kering tampak sulit untuk diusahakan apalagi untuk pengelolaan tanaman secara budidaya. Selain itu, lahan kering tidak memiliki sumber air yang memadai sehingga menghambat berbagai macam reaksi yang terjadi terutama yang bersinggungan dengan sifat kimia tanah. Hal ini lah yang membedakan tanah di wilayah lahan kering dengan lahan basah. “Yang perlu diperhatikan ketika mengelola lahan kering adalah bagaimana manajemen airnya” ungkap Habibi saat berkeliling di Desa Pringgabaya Utara.

Nusa Tenggara Barat sendiri memiliki potensi lahan kering yang luasannya hampir 82% dari luas daratannya. Namun yang sudah dikelola baru sekitar 40% dari angka tersebut (Swardji,2018). Kesimpulannya, jika pemerintah Lombok Timur memberikan perhatian khusus, maka tidak akan ada lagi terdengar jeritan kemiskinan di sekitar daerah lahan kering. [SR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *