PAHIT NYA MENJADI PETANI GARAM (BAGIAN I)

Tanah Indonesia menjadi pilihan tempat hidup jutaan orang. Tidak terkecuali para petani garam. Menjadi petani garam, menurut petani garam sendiri merupakan jalan terakhir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seringkali profesi ini dipandang sebelah mata dan diidentikkan dengan kemiskinan oleh sebagian orang termasuk NTB. Banyak orang beranggapan termasuk para petani garam sendiri bahwa menjadi petani garam secara tidak langsung menunjukkan bahwa tingkat perekonomian mereka di bawah kata sejahtera. Hal ini jelas berbanding terbalik dengan kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri bahwa tanpa garam semua masakan akan terasa hambar. Terlihat jelas betapa pentingnya kehadiran si garam dalam mendampingi bumbu-bumbu dapur, dan kita tahu bahwa bumbu dapur merupakan kebutuhan primer kita sebagai manusia yang butuh makan setiap hari. Bisa dibayangkan bukan? Bagaimana jika para petani garam di Indonesia ini mogok kerja?

Masih ingatkah kita akan peristiwa yang pernah menjadi sorotan semua pihak? Kala itu, garam di pasaran mendadak langka dan semua orang panik termasuk Menteri Perdagangan. Kepanikan ini terjadi hampir 2 bulan lamanya. Cuaca ekstrim yaitu Lanina yang terjadi di Indonesia menjadi penyebab kelangkaan garam saat itu. Musim penghujan yang begitu panjang mengakibatkan banyaknya ladang garam mengalami permasalahan mulai dari produksi yang terhambat sampai pada kegagalan panen para petani garam.

Selama ini, garam begitu mudah didapatkan. Selain itu, harganya juga sama sekali tidak menguras kantong. Barangkali ini yang menyebabkan sedikit sekali orang yang mau peduli dengan proses pembuatan garam yang sebenarnya cukup panjang dan rumit.

Sebelum lebih jauh membahas garam, saya mau mengajak kita semua untuk mencari tahu kapan sih orang mulai mengenal garam. Menurut salah seorang peneliti menceritakan bahwa keberadaan garam diperkirakan sudah ada sejak sejak zaman pra sejarah, tepatnya saat zaman neolitikum. Dengan ditemukannya garam ini mengindikasikan bahwa orang dulu sudah memiliki selera masak ditambahlagi dengan ditemukannya berbagaimacam bumbu masakan lainnya.

Tanpa garam, hmmm sudah bisa dibayangkan para nenek moyang kita bagaimana reaksinya ketika istrinya lupa memberikan garam pada masakannya. Siap-siap piring cantik melayang (kira-kira sudah kenal piring belum ya). Berawal dari zaman tersebut mulailah berbagaimacam teknologi ditemukan manusia untuk memproduksi garam secara besar-besaran. Tepatnya pada zaman sebelum masehi.

Yang menjadi pertanyaan adalah, kapan garam mulai dikenal oleh orang Indonesia ???. Tidak ada penjelasan yang pasti tentang kapan garam masuk di wilayah nusantara, akan tetapi garam sendiri sudah mulai ditemukan ketika abad ke 9 masehi.

Kini, garam sudah diproduksi secara masal oleh masyarakat Indonesia. Mulai dari Sabang hingga Marauke tersebar dibeberapa titik sentra penghasil garam. Tapi ingat walaupun Negara kita Negara kepulauan yang memiliki garis pantai yang panjang dan hampir 70% wilayah Indonesia merupakan lautan, bisa dikatakan tidak semuanya bisa jadikan ladang garam. Ada beberapa hal yang menjadi factor penyebab kenapa tidak semua wilayah bisa menghasilkan garam. Factor tersebut meliputi:

Kondisi Tanah, Sama halnya dengan pertanian, ternyata bertani garam juga harus memperhatikan tekstur dari tanahnya. Jika tanah yang didominasi pasir, bisa dikatakan tidak bakalan masuk menjadi kriteria. Sebab pori-pori makro nya mendominasi, sehingga akan mempercepat laju infiltrasi maupun perkolasi. Oleh sebab itu, untuk menjadikan ladang garam harus memilih tanah yang tepat paling tidak tekstur nya harus didominasi oleh liat atau biasa dikenal istilah clay (bahas inggris). Liat yang mendominasi partikel tanah karena adanya pori-pori mikro yang lebih dominan. Pada intinya ladang garam yang dibuat tidak cepat mengalami infiltrasi, sehingga mempermudah dalam proses penguapan dan yang terpenting kualitas garam yang dihasilkan terjamin.

Kwalitas Air Laut, selain faktor yang berasal dari kondisi tanah yang dijadikan media tempat produksi garam, kualitas air laut pun menjadi pertimbangan untuk menghasilkan garam. Kualitas air laut memiliki peranan untuk terbentuknya butiran-butiran garam tersebut. Tingkat keasaman air laut menjadi point yang perlu mendapat perhatian. Ditambah lagi konsentrasi air garam menurut hasil penelitian harus berkisar antara 25°-29° Be, sehingga garam yang ada di air laut bisa mengkristal.  Jika kurang dari standar yang sudah ditetapkan maka yang terbentuk adalah kalsium sulfat bukan Sodium klorida. Begitu sebaliknya jika konsentrasi Be nya diatas  29° Be, yang ada hanya endapan magnesium.

Iklim, ini faktor penentu dari semua proses. Jika proses sudah terlaksana dengan baik. Mulai dari pembuatan ladang atau petak garam, kemudian dialiri air laut hingga proses penguapan. Tinggal berharap apakah cuaca hari ini bersahabat atau justru sebaliknya. Terik matahari yang begitu menyengat akan membawa berkah bagi para petani garam. Dengan mudahnya terlihat kilauan kristal-kristal garam di petak ladang garam. Kondisi iklim yang kian hari tidak bisa diprediksi terkadang mengakibatkan kegundahan bagi petani garam. Tinggal menghitung hari untuk panen, ehh tiba-tiba hujan pun datang. Asa petani garam pun ikut mencair seperti mencairnya air garam yang mencari aliran sesukanya. Waktu yang digunakan untuk memproduksi garam cukum singkat, kurang dari 6 bulan. Enam bulan ini merupakan waktu yang dipergunakan mulai dari proses hingga panen. Menurut pemerhati garam, ibu Zahra bahwa waktu yang dimanfaatkan untuk masa panen khususnya di Lombok hanya 4 bulan.

***

Mau tidak mau kita harus mengakui, bahwa kita (Indonesia) masih jauh tertinggal dengan sentuhan teknologi, bayangkan saja Australia yang garis pantainya tidak begitu panjang bisa menghasilkan garam hingga jutaan ton dan bahkan Indonesia ikut merasakan asinnya garam Australia yang diimpor kala garam Indonesia mulai mencair. Ditambah lagi kualitas garam tetangga yang masuk menjadi penentu keberhasilan petani garam Indonesia. Tidak heran jika pemerintah terus memperhatikan kualitas garam Indonesia hingga melampaui kualitas garam Australia, atau paling tidak mendekati.

Dengan melihat kondisi yang begitu pahit dialami para petani garam, masihkah kita protes ketika harga 500 rupiah dinaikkan?. Di tempat saya harga garam masih berkisar 2000-3000 rupiah per kilonya, Garam yang di pasarkan rata-rata sudah memenuhi standar yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan memerhatikan kandungan iodiumnya.

Sebagai catatan bahwa, walaupun negara kita ini negara dengan memiliki garis pantai yang sangat panjang, tapi tidak semuanya lokasi bisa dijadikan areal produksi garam. Selain itu juga, rata-rata petani garam adalah mereka yang sudah berumur (tua). Hampir setiap lokasi yang saya kunjungi tidak pernah menemukan adanya petani garam yang tergolong muda.

Seperti kejadian tahun kemarin yang meyita perhatian banyak orang ketika garam mulai langka. Jutaan ocehan mulai tampak disetiap akun sosial media para warganet. Dengan lantangnya meneriakkan “masak negara dengan garis pantai yang begitu panjang tidak bisa menghasilkan garam”.  Ada juga yang menulis “emangnya laut Indonesia sudah tidak asin lagi ya?”. Saya tegaskan lagi permasalahannya bukan terletak pada asin atau tidaknya air laut. Bukan juga terletak pada garis pantai yang panjang. Permasalahannya adalah sudah memnuhi kriteria tidak untuk dijadikan ladang garam? [SR]

2 thoughts on “PAHIT NYA MENJADI PETANI GARAM (BAGIAN I)

    • January 21, 2018 at 6:05 pm
      Permalink

      ada koc. tapi di lombok belum ada

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *