KEJUTAN AWAL TAHUN KOALISI GERINDRA DAN PDIP UNTUK AHYAR MORI DI PILGUB NTB

Ahh.. ng mungkin, kata Izi, teman saya ketika saya menceritakan prihal koalisi partai Gerindra dan PDIP dalam mengusung pasangan Ahyar-Mori. Mana bisa bersatu, setau saya Gerindra itu tidak pernah mau berkoalisi, ungkap Izi ke saya dengan muka sedikit kesal. Entah apa yang melatar belakangi begitu kecewanya Ia setelah mendegar PDIP ikut berkoalisi mendukung Ahyar-Mori. Padahal kalau kita ingat–ingat Gerindra dan PDIP pernah saling cinta, hingga berujung pada perhelatan pesta demokrasi terbesar di Indonesia pada tahun 2009. Tidak tangung ketua umum masing-masing partai diusung dalam laga pemilihan presiden.

Tapi, walaupun bos besarnya yang maju, rakyat lebih tertarik dengan senyuman manis pak SBY dan Budiono. Tidak mau berulang dengan pengalaman pahit kala itu, tahun 2014 PDIP lebih memilih petugas partainya ketimbang bos besarnya yang maju. Entah apa alasannya. Tapi tidak dengan Gerindra yang lebih percaya diri untuk mampu memikat hati rakyat Indonesia, Pak Bowo pun maju melawan petugasnya PDIP. Dan apa yang terjadi ternyata, karismatik Si Bos Gerindra kalah telak dengan petugas partai didikan Emak Mega.

Sejak itulah Emak Mega terlihat sebagai seorang pendidik yang memiliki segudang pengetahuan. Emak Mega memang lihai dalam menyiapkan kadernya untuk dijadikan pemimpin, baik pemimpin daerah maupun pemimpin negara. Tapi sayang, kenapa Emak tidak bisa mendidik anaknya kayak Pak Beye yang menjadikan Agus menjadi pigur idaman anak-anak jaman now.

Merunut sejarah perkoalisian antara kedua partai ini, hanya terhitung pada tahun 2009 saja. Dan tahun-tahun berikutnya tidak lagi terjadi hanya saja koalisi dalam mengusung calon kepala daerah. Menurut informasi dari PDIP, bahwa mereka kapok berkoalisi dengan Gerindra, pasalnya Pak Bowo ‘ng totalitas dalam memperjuangkan hajatannya. Ditambah lagi, menurut mbak Ribka Tjiptaning Ketua DPP PDIP kala itu,bahwa Pak Bowo ini orangnya pelit dalam mengeluarkan hartanya. Padahal beliau ini memiliki 1,7 triliun. Entah lah ini sebatas omongan orang berpolitik terkadang mencaci terkadang juga merindui hingga kangen akan kemesraan masa lalunya. Terbukti, pada PILGUB NTB 2018 ini PDI secara lantang setelah menarik dukungannya ke Ali BEDE yang terlanjur Independent kini memilih Ahyar Abduh untuk didukung dalam perhelatan. Jarang-jarang kita melihat dua bendera ini berkibar dalam satu ruangan. Memang Gerindra sejak awal mulai memerintahkan kadernya yaitu Mori Hanafi untuk pasang badan, tapi tidak sebagai Gubernur hanya saja sebagai wakil.

Tercatat sejak deklarasi bulan Oktober tahun lalu, Gerindra lebih dahulu menyantakan sikap  memberikan dukungan ke Ahyar untuk maju dengan didampingi oleh petugas partai kesayangan Gerindra yaitu Mori Hanafi. Tidak tangung-tangung Pak Bowo turun langsung menghimbau keseluruh masyarakat NTB untuk mendukung calon pilihannya. Mas bowo pun nyuri-nyuri pangung dengan meneriakkan apakah warga NTB tetap mengiginkan dirinya untuk menjadi presiden pemilu yang kan datang. Kita harus mengakui pada Pilpres 2014 hampir 75 % suara warga NTB di peruntukkan ke Pak Bowo, alangkah senangnya Pak Bowo kala itu.

Fokus tetang koalisi, kita tinggalkan masa lalu mereka yang suram. Sejak Emak Mega mengumumkan 4 Januari 2018 di Kantor DPP PDIP Menteng Jakarta, resmilah PDIP mendukung pasangan Ahyar Mori untuk berlaga dalam PILGUB serentak 2018 di NTB.  Dukungan ini disambut baik oleh timnya Ahyar-Mori, walupun para pendukungnya disetiap daerah merasakan kekecewaan dan bahkan ada juga yang mengatakan akan menarik dukungannya jikalau Tuan guru ini di dukung PDIP. Kecewa boleh tapi harus memiliki alasan, kenapa?.

Berbeda hal nya dengan pendukung Ahyar-Mori, Emak Mega justru baru sadar dan merasakan adanya getar-getar asmara dan mulai terpincut dengan sosok TGH. Ahyar Abduh (Walikota Mataram). Padahal Bulan Agustus lalu PDIP dengan lantang mengatakan bahwa ALI BEDE (Bupati Lomok Timur) Harga Mati dan siap mendukungnya. Apa boleh buat walaupun Ali BEDE dirayu mati-matian ia pun tidak tertarik.

Ahyar menurut Emak memiliki latar belakang sebagai seorang aktivis dari organisasi agama terbesar di Indonesia yaitu NU. Menurutnya, “beliau juga dikenal sebagai tokoh keharmonisan perbatasan antara NTB dan NTT”. Koc saya baru tau ya.

Selain itu juga Bundanya Puan Maharani ini terpukau akan kecerdasan sosok muda yang memiliki jargon “merdeka itu kalau NTB tuntas” tidak lain kalau bukan Mori Hanafi. Saya mulai paham pantasan PDIP dan Gerindra bisa di satukan di NTB, ternyata Pak Tuan Guru Ahyar memiliki keahlian dalam mengharmonisasi hubungan yang dulu retak dan kini terjalin lagi.

Berkoalisinya Pak Bowo dan Bundanya Puan, menimbulkan berbagaimacam pertanyaan dari warganet. Apakah dengan perkoalisian ini menyangkut pilpres 2019, padahal kita ketahui kedua kubu memiliki tokoh yang sama-sama kuat untuk bertarung. Sebut saja Jokowi dan Pak Bowo. Menurut orang PDIP bahwa perkoalisian ini tidak ada sangkut pautnya dengan Pilpres 2019.

PDIP juga menegaskan “menyangkut Pilpres tentunya kita punya strategi tertentu. Tidak lantas kita bergabung dengan Gerindra kemudian ruang gerak kami secara politik untuk kepentingan mensukseskan jokowi sebagai Capres dari PDIP menjadi tidak bisa digerakkan. Ungkap petugas partai PDIP Raden Nuna Abbriadi.

Yang jelas hadirnya PDIP dan mulai bergabung dengan partai-partai Koalisi merah putih ini tentu akan menambah kekuatan bagi pasangan Ahyar-Mori. Para pendukungnya patut berbangga, selain bisa diusung partai penguasa juga menjadi media reuni antar PDIP dengan GERINDRA, siapa tau mereka bisa Move On dan rujuk kembali, tapi ada catatannya asalkan Megawati dan Pak Bowo yang maju dalam Pilpres. Mega-Pro bisa!!!

Saya mengucapkan selamat bergabung PDIP dan selamat berjuang. semoga tidak menimbulkan aksi-aksi serupa, kayak di DKI dan semoga tidak ada reuni para alumnus 212. Dan Gerindra tetaplah bekerja demi mengAMANkan NTB. Semoga teman saya Izi paham perihal dunia politik. Dunia politik itu tidak bisa diprediksi, kemarin bilang ASU, sekarang bilang I Love U. Di sini bermeseraan di daerah lain bermusuhan, disana saling hujat di sini malah bergandengan tangan dengan penuh hasrat. Begitulah kira-kira [SR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *