KARISMATIK TUAN GURU DALAM DUNIA POLITIK NTB

Salah seorang peneliti tahun 2004 melakukan penelitian terkait peran tuan guru dalam dunia politik hingga keterlibatannya. Penelitian tersebut dilakukan saat pemilihan legislatif dan kepala daerah. Kala itu, banyak terlihat wajah baru yang bermunculan di pesta demokrasi, tidak terkecuali para Tuan Guru ambil andil didalamnya ikut bertarung.

Para tuan guru, (sebutan bagi orang yang memiliki ilmu agama atau sekelas kiayi) mulai turun gunung untuk ikut tanding dalam ajang pesta demokrasi. Dan alhasil, gelar tuan guru tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil pemilu. Dan bahkan sebagian orang berpendapat, ternyata gelar tuan guru tidak dipandang sebagai peningkat popularitas. Hal ini dikarenakan kurangya rasa ketertarikan para pemilih saat itu. Penyebab nya adalah adanya rasa pesimisme yang diakibatkan kurangnya pemahaman para calon tentang politik. Ditambah lagi para masyarakat melihat tokoh agama yang memilih dunia politik terlihat tidak pantas, sebab mereka lebih dipandang terhormat sebagai guru dan tokoh. Pandangan masyarakat ini berlandaskan pada peran tuan guru sebagai pengajar dan penebar ilmu agama sekaligus mengayomi masyarakat. Masyarakat juga tidak menginginkan adanya tokoh agamanya jika terjun dalam dunia politik akan terjebak pada sebuah praktek politik yang kotor. Seperti kita ketahui bahwa dunia politik penuh intrik.

Disamping itu juga, masyarakat pada umunya sering beranggapan, jika para tuan guru yang menjadi pemimpin, mereka tidak bisa membedakan mana wilayah politik dan agama sehingga isu yang bekaitan dengan agama dan politk seringkali tercampur, apalagi tuan guru sebagai seorang yang di pandang, sosok pengajar umat dianggap akan menerapkan system paternalistic yaitu hubungan antara guru dan murid, ini dapat menimbulkan adanya komunikasi yang bersifat emosional yang dilakukan oleh tuan guru sebagai seorang pemimpin dan bahkan seringkali masyarakat terlihat pasif, pasrah dan tidak keritis terhadap pemimpinnya.
Beda halnya, pada tahun 2008 karismatik seorang tuan guru mulai bersinar, dengan terpilihnya tuan guru, sosok muda dari salah satu organisasi kegamaan terbesar di NTB mampu menepis anggapan yang disebutkan di atas, walaupun ada beberapa hal yang disebutkan benar adanya. Tuan Guru Bajang (TGB) panggilan akrab dari pengikutnya dan masyarakat, ini membuktikan bahwa tokoh agama seperti dirinya memiliki kemampuan untuk memimpin. Tidak hanya pandai dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui sentuhan ceramah agama, juga mampu menjadi pemimpin yang didambakan masyarakat.

Dua periode kepemimpinan sangat cukup untuk membuktikan bahwa system paternalistic itu tidak berlaku. Sosok muda yang memiliki segudang prestasi ini walau disebut sebagai tuan guru tidak lantas menolak keritik. Beliau (TGB) juga dikenal dengan pemimpin yang penuh toleransi, walaupun pemuka agama bagi umat muslim tidak semerta-merta memandang perbedaan umat yang lain. Propinsi NTB termasuk propinsi yang memiliki keberagaman suku dan agama. Umat beragama dengan rukun hidup berdampingan. Tidak hanya itu, TGB juga mulai membangun NTB dengan mengedepankan sektor vital seperti petanian, peternakan dan bahkan kelautan. Inilah yang menjadi nilai plus dari sosok pemuka agama yang mampu memimpin umat.

Sejak itulah sosok para pemuka agama mulai bermunculan dikancah perpolitikan NTB. Jangan heran jika suatu saat melihat para calon sedikit-dikit menyematkan gelar tuan guru di depan namanya. Padahal kata tuan guru sangat melekat bagi mereka yang mendalami ilmu agama, memiliki pondok pesantren dan fokus dalam menyebar luaskan ajaran agama islam.

Banyaknya fenomena semacam ini menjadi pertanyaan bagi setiap masyarakat jika melihat ada calon yang tiba-tiba memiliki gelar tuan guru. Padahal diketahui sebelum pencalonan biasa-biasa saja. [SR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *