KAKEK ALI BD TERMASUK PRIA SELEKTIF

Bisa dibayangkan? Ketika ada jomblo yang disuguhkan pasangan hidup beberapa kali namun tidak ada respon, ini namanya jomblo ngeyel. Terkadang si jomblo karena terlalu akut, mereka sulit menentukan apakah YA atau TIDAK, sehingga terkadang terlihat seperti orang kebingungan. Kalau menurut saya sih, jika tidak pantas bilang saja tidak, ketimbang mengantungkan harapan yang tidak jelas bagi mereka yang tengah mengaharapkan jawaban. Intinya bagi para jomblo (ini bagi Jomblo beneran lho ya), jangan terlalu tebar pesona kalau tidak memiliki keinginan untuk melepaskan gelar jomblonya  biar yang ngeliat ngak pada baper dan pada akhirnya kalian dicap sebagai jomblo dengan pangkat PHP.

Siapa sih yang tidak boleh memilih, justru wajib hukumnya memilih karena ini menyangkut tentang masa depan, tapi jangan gitu-gitu juga kali kasian terlalu banyak memilih juga ng bagus. Mau milih hingga tua???

Seperti halnya Kakek Ali dalam menentukan pilihan pendampingnya ketika akan maju di PILGUB NTB 2018, butuh waktu lama untuk menentukan siapa sih sosok yang menjadi dambaan hatinya. Saya curiga ketika Kakek Ali saat menerawang atau memilih pasangan butuh beberapa indikator agar bisa srek. Ini bayangan saya, mungkin saja beliau mencari pasangan yang setia, karismatik, dan yang terpenting memiliki pengikut atau suara terbanyak. Tapi kembali lagi saya berpendapat beda, persoalan setia dan cinta itu nomer belakang di dalam dunia perpolitikan, buktinya banyak pasangan yang mesra ketika pemilu berakhir ricuh selepas sumpah jabatan.

Terlepas dari masalah setia yang terpenting bisa melengkapi kekurangan sehingga hidup terasa sempurna. Perlu kalian tau.  Mencari sosok pendamping di PILGUB tidak beda jauh dengan proses pemilihan pasangan hidup, mulai dari ta’arufan hingga sholat istiharah dilakukan. Ng percaya? tanya saja sama para calon.

Kakek Ali BD sejak awal memang sudah memasang tampang untuk maju melalui jalur independen. Karena menurutnya masyarakat NTB sangat menginginkan dirinya. Apalagi dengan penuh harapannya Pak Ali menulis Rakyat NTB sudah lama menanti.

Sekelas Kakek Ali tidak lagi butuh seperti emak comblang (partai politik), sejak dulu beliau selalu mandiri tidak mau memberatkan orang lain apalagi membebankan orang lain untuk mencarikan dirinya jodoh. Dia kan memiliki sejuta gaya yang kebanyakan orang-orang tidak mengetahui. Maklumlah dia kan orang yang sarat pengalaman hidup dan memiliki umur yang sudah tidak diragukan lagi kematangannya. Walaupun demikian tidak sedikit dari mereka yang merasa Ali BD butuh tuntunan untuk mencari pasangannya. Seperti halnya Rahmad Hidayat, tokoh politik senior dari partai yang sedang berkuasa di negeri ini, merelakan istrinya untuk menjadi pendampingnya. Hingga judul besar terpampang di media lokal bahwa pasangan ini HARGA MATI. Apalah daya, jika sudah dari awal berkomitmen untuk independen si Bulu Landak pun menolak, walau ribuan baliho membanjiri NTB dengan foto mereka berdua (ALI-SELLY).

Menurut saya, pasangan ALI-SELLY ini merupakan pasangan yang ideal dan gampang diingat. Tak perlu banyak branding cukup kata ASEL orang pasti ingat. Apalagi Lombok Timur sendiri mempunyai air mineral kemasan bermerek “asel” milik perusahaan daerah. Tinggal gencar aja marketing asel untuk menjangkau lebih banyak pelanggan. Tambah lagi saran saya Kalau mau mengadakan pertemuan, ya.. sekelas pertemuan kelompok lah, baik itu petani atau kelompok ibu-ibu pengajian berikan saja beberapa dus ASEL pasti peserta akan tau Asel itu siapa, ya pasti Ali-SELly. Ini sih saran saya jangan dianggap serius ya. Soalnya sering kali saya melihat orang yang memanfaatkan jabatan dan fasilitas negara untuk kampanye. Kalau mau tau contohnya banyak, ng perlu di sebutkan, pasti tau semua siapa orangnya.

Tapi ada catatan, seandainya pasangan ini benar-benar terjadi waduh. saya tidak bisa membayangkan keidealannya. Yang satu suka menyalahi yang satunya lagi suka ngomel.

Kembali lagi, jodoh memang di tangan Tuhan, apalah daya walau banyak perjuangan dari timnya Selly, Ali pun tidak lantas mengatakan iya. Berjarak beberapa minggu setelah Ali menolak Selly, pemuda dengan tatapan tajam mulai merayu Ali. Tidak tanggung-tanggung tagline “AN-NUR” (cahaya) dipakai untuk merayu Ali. Ali yang sejak dulu sudah memiliki muka yang bercaya dengan kepala dingin menolak. Sungguh malang nasib Bung Nuri. Mungkin kakek Ali BD memang tidak butuh orang yang terlalu kepedean apalagi dengan gaung yang penting rakyat senang nya Ali tidak langsung mengiyakan (tolong baliho nya di cabut saja).  Sabar ya, semoga Bung Nuri tidak kecewa.  Saya percaya dalam diri bun Nuri pasti ada secercah kebshagiaan, masak rakyat saja di kasih senang anda juga dong.

Itulah yang kurang pada diri seseorang, kadang tidak mau belajar dari pengalaman atau masa lalu orang terdahulu yang pernah kena luka dihati.

Walaupun umur 70-an tapi semangat nya tidak pernah kendor, saya melihat itu dari ribuan baliho yang dipasang Kakek Ali di sepanjang jalan Propinsi NTB masih terlihat kekar dengan senyuman lebar dilengkapi kacamata hitam bagaikan vokalis salah satu band yang sudah bubar, walau terkadang banyak orang yang ng percaya itu foto Ali BD jaman Now atau bukan yang masih terlihat muda. Saya heran dengan kakek Ali, kenapa semua kalangan politik tertarik dengan Nya. Entah senggeger atau pelet apa yang digunakan.

Dan pendek cerita pada akhirnya, si Kakek jatuh hati pada sosok Sakti yang penuh karismatik dengan gelar Tuan Guru. Ditambalagi dengan umur yang sama-sama terlalu matangnya. Si Kakek Ali tidak mau mendeglarasikan seperti kebanyakan calon lainnya yang memilih deglarasi dengan semaraknya. Dia lebih memilih biasa-biasa saja. Ini diperkuat dengan bentuk komitmennya dengan langsung mendatangi KPU untuk mendaptar dengan membawa bukti berupa puluhan ribu foto copy. Dengan keluarnya pasangan ini dari pintu KPU sudah jelas siapa pasangan sahnya Kakek Ali.

Tinggal menunggu hasil dari KPU apakah pasangan ini lolos untuk ikut bertarung pada ajang pesta demokrasi di NTB, ataukah terhenti. Paras optimisme terpancar dari kedua pasangan ini walaupun belakangan ini beredar pemberitaan di media sosial terkait hasil verifikasi factual syarat calon independen berupa KTP yang menuai keritik lantaran KTP masyarakat digunakan tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Pertanyaanya adalah dari mana tim nya mendapatkan KTP tersebut, apakah dari tukang fotocopy??? Ataukah dari tukang bubur yang sampai saat ini belum pulang naik haji???? Kita tunggu saja hasilnya dari KPU. [SR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *