DARI CINTA, OLEH CINTA DAN UNTUK CINTA

“Perjalanan jodoh hanya Allah yang tau”, hanya kata ini yang sering terucap ketika banyak penduduk bumi ini menanyakan perihal pernikahan. Perkara jodoh merupakan sebuah hadiah yang tidak kita tau bentuknya seperti apa. Sangat rahasia, mungkin ini kalimat yang tepat untuk mengambarkannya. Sama halnya dengan apa yang saya alami kala itu. Jodoh itu kita tidak pernah tau seperti apa wujudnya , eehh tiba-tiba sudah nongol aja. Tapi perlu diketahui untuk menebak-nebak siapa jodoh kita perlu adanya upaya yang kita lakukan tidak lain dan tidak bukan yaitu mendekatkan diri kepada sang pemilik alam semesta ini. Cara menerka siapa jodoh kita, yaitu dengan memahami ayat yang tersirat dalam Al-Quran yaitu “lelaki yang baik, pasti berjodoh dengan perempuan yang baik, begitu pula sebaliknya” jika kita paham dengan maksud dari firman Allah maka kita sudah sepatutnya untuk mulai bercermin siapa kira yang pantas.

Kita beranjak ke realita dulu. Banyak sekali orang yang jatuh cinta, lalu menjalaninya sesuai “kehendak hati”, katanya. Semau sesukanya. Banyak. Dan kita tak bisa mengelak kenyataan ini. Contoh, ada seorang perempuan dan laki-laki “saling cinta”, katanya. Si perempuan adalah anak orang kaya. Si laki anak orang tak mampu. Sebut saja namanya adalah Dini dan Dono. Dini selalu memberi apa yang Dono minta, meskipun kerap kali Dono mengeluarkan kata-kata kasar terhadapnya. Kecewa memang yang dirasakan Dini. Namun ada saja yang membuatnya mempertahankan Dono, orang yang katanya dia kasihi itu.

Contoh lain, sebut saja Indi dan Ondo. Mereka saling cinta katanya.Kemana-mana biasa berdua. Makan saling suapin. Sehari tak bertemu serasa sewindu. Dan masih banyak contoh serupa tentang “jatuh cinta” dan bagaimana menjalani cinta ala anak muda sekarang (kebanyakan). Siapa sih yang hatinya tak tersulap seketika menjadi taman bunga dengan semerbak wewangian saat dihampiri perasaan yang satu ini? Hampir semua insan pernah merasakannya. Saat cinta datang, apapun di sekelilingnya terhipnotis. Yang layu jadi mekar. Yang beku jadi cair. Yang keras jadi lunak. Mendadak. Hipnotisnya sulit ditolak. Wajar, perasaan yang begitu diagungkan oleh seluruh insan itu tentu saja dengan mudah melakukannya. Ia punya kekuatan. Lebih kuat dari petinju dunia yang tak terkalahkan. Banyak sudah otak yang mencoba menafsirkannya. Namun tak satupun pengertian yang benar-benar mampu merangkum dan mewakili satu kata “cinta” itu dengan sempurna, utuh, tepat. Di tulisan ini, tidak ada pengertian tentang cinta. Karena cinta hanya bisa didefinisikan oleh cinta itu sendiri.

Berbicara tentang “cinta” dan jatuh cinta memang tak akan ada habisnya. Tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana seseorang itu menjalani perasaan yang mereka katakan “cinta”. Apakah mereka menjalaninya sesuai batas pemahaman dirinya sendiri? Apa hanya sebatas apa yang menurut mereka benar? Atau sesuai kah dengan apa yang diinginkan oleh Yang Menciptakan rasa cinta itu? Tapi yang pasti ada beberapa jenis cinta yang tak terbantahkan: cinta Tuhan pada hambaNYA, cinta seorang ibu pada anaknya, dan cinta seorang lelaki/perempuan terhadap seorang kekasih halalnya. Akan tetapi, begitu banyak anak muda sekarang yang mengumbar-umbar kata cinta pada seorang lelaki atau perempuan yang belum menjadi pasangan halalnya. Yang terparah, tidak sedikit dari mereka yang menjalani hari-hari layaknya suami istri.

Specifically, cinta memang bisa termasuk cinta seorang ibu pada anaknya atau cinta seseorang pada istri/suaminya. Namun sebenarnya, cinta tidak sesempit itu. Saya jadi ingat sebuah film Hollywood yang berjudul “The Librarian”. Film itu menceritakan seorang lelaki yang menjadi penjaga perpustakaan atau dalam Bahasa Inggris The Librarian. Ada satu scene yang di dalamnya terdapat sebuah kalimat menakjubkan ketika lelaki tersebut diwawancarai sebagai calon penjaga perpustakaan. Interviewernya bertanya pada lelaki tersebut, “what is more important than knowledge?” Lelaki tersebut menjawab, “The things that make life worth living can’t be thought here (sambil menunjuk kepalanya), they must be felt here (sambil menunjuk ke dadanya).” dari kalimat ini saya bisa sedikit melihat bahwa pada dasarnya apapun rasa yang ada dalam hati itu adalah anak dari kebaikan. Dan kebaikan adalah cinta. Iya. Segala bentuk kebaikan adalah wujud cinta, menurut saya. Kalimat dalam scene film The Librarian itu menjelaskan betapa berharganya cinta. Ia ada di dalam hati. Tumbuh di sana. Dan terpancar dari perlakuan seluruh anggota badan. Yang nantinya akan mengubah hidup seseorang menjadi penuh manfaat dan makna. Finally, semoga perasaan yang kita sebut cinta itu bisa dijaga dan diberlakukan sesuai keberhargaannya.[SL]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *