ALI HABIBI, CALON BUPATI LOTIM PEDULI SAMPAH

Hampir semua kita tidak menyadari bahwa kebiasaan buruk yang seringkali kita lakukan ternyata membawa dampak yang berbahaya, bahkan dapat mengancam keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Kebiasaan buruk yang tanpa kita sadari ini adalah acuhnya kita terhadap persoalan sampah. Sampah semakin hari semakin bertumpuk baik sampah dari rumah tangga hingga sampah yang dihasilkan oleh industri. Tiap hari sampah menjadi permasalahan yang pelik di setiap daerah. Pertahun tercatat miliaran ton sampah dihasilkan oleh penduduk bumi, tak terkecuali pulau Lombok terlebih Kabupaten Lombok Timur.

Lombok Timur merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terpadat di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Jumlah penduduk yang hampir 2 juta jiwa tidak dipungkiri akan menghasilkan jumlah sampah yang begitu banyak. Ditambah lagi pengelolaan sampah yang masih buruk menjadi catatan khusus. Hanya beberapa TPA (Tempat Pembuangan Akhir) tersedia di wilayah ini. Selebihnya sampah dibuang sembarangan di beberapa tempat semisal selokan, sungai yang pada akhirnya akan terkumpul di lautan. Ironinya pemerintah dan masyarakat terkesan acuh melihat hal ini.

Persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, akan tetapi menjadi tangung jawab semua pihak. Terkadang permasalahan sampah kerap kali dianggap sebagai persoalan yang biasa-biasa saja. Sehingga jarang terdengar solusi akan permasalahan sampah tersebut. Terlebih ketika musim Pilkada tiba, para calon tidak peduli akan hal ini. Visi misi atau program yang ditawarkan jarang menyebutkan persoalan sampah.

Pilkada Serentak yang kan digelar pada bulan Juni 2018 mendatang, di berbagai daerah harus dijadikan momen atau perhatian serius para calon dalam menangkal isu lingkungan terutama sampah. Permasalahan ini harus menjadi isu strategis yang semestinya menjadi bahan kampanye dari semua calon pemimpin di daerah. Akan tetapi para calon seringkali menganggap ini sebagai permasalahan yang biasa-biasa saja.

Tidak dengan Ali Masadi, calon Bupati bernomor urut 2  yang berpasangan dengan Putrawan Habibi ini lebih memprioritaskan masalah sampah. Bahkan permasalahan sampah menjadi program unggulannya sebagai calon Bupati Kabupaten Lombok Timur yang maju melalui jalur independent.

Pasangan ini berjanji akan memberikan asuransi pendidikan dan kesehatan melalui pengelolaan sampah dan yang tidak kalah menarik yaitu akan dibangunnya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus sampah. Dalam dialognya, Habibi menjelaskan misinya tentang sampah. “Sampah merupakan modal besar dalam menjawab semua persoalan yang ada, misalnya permasalahan pendidikan, kesehatan kemisikinan dan lain sebagainya, dan modal itu akan selalu ada didepan mata tidak perlu dicari”. Kenyataannya sampah akan terus dihasilkan oleh manusia, bukannya berkurang malah akan terjadi peningkatan volume di setiap tahunnya. Dan hal ini tidak bia dipungkiri mengingat semakin pesatnya pertumbuhan penduduk dan industri. Jika ini tidak dikelola maka tunggulah kehancuran akan datang. Solusinya adalah seperti yang di ungkapkan oleh Habibi.

Tidak mau janji-jani yang muluk dan omong kosong, pasangan Ali-Habibi mengatakan  bahwa dirinya akan bergerak dari hal kecil menuju hal yang besar. “sampah itu nyata adanya. Jika ada penanganan yang tepat, maka akan memberikan beribu-ribu manfaat, mulai dari mengurangi anggran untuk perbaikan akibat bencana yang ditimbulkan oleh sampah, hingga menjadi solusi permasalahan lingkungan dan ekonomi” tutur Habibi, calon wakil Bupati termuda di Indonesia yang berumur 33 tahun.

Sampah merupakan investasi yang menguntungkan. Pengelolaan sampah akan membantu mengurangi angka pengangguran. Pasangan Ali-Habibi mencanangkan di setiap desa memiliki 1-3 petugas sampah dengan kendaraan yang disiapkan. Maka hitungannya, 3 orang pengangguran di setiap desa mendapatkan pekerjaan.  Jika dikalikan dengan jumlah 254 desa yang tersebar di Lombok Timur maka 762 orang penganguran akan mendapatkan pekerjaan.

Tidak berhenti sampai di proses pemungutan dan pengumpulan sampah oleh 3 orang petugas di setiap desa, pengelolaan selanjutnya akan dilimpahkan ke pusat pengelolaan ditiap desa yang akan didirikan yang dilengkapi dengan adanya inovasi dari teknologi OSAMTU (Olah sampah Sampai Tuntas) oleh pasangan Ali-Habibi. Pengelolaan lanjutan ini akan melibatkan 5 atau lebih orang tenaga. Jadi jika setiap desa dalam pengelolaan sampah membutuhkan tenaga kira-kira 3-5 tenaga maka Kabupaten Lombok Timur sendiri akan mengurangi angka pengangguran hingga 2.032 jiwa. Ini baru dari sampah belum lagi dari program yang lain.

Nilai lebih yang ditawarkan oleh calon yang berasal dari kalangan pemuda ini yaitu adanya asuransi bagi masyarakat yang peduli terhadap lingkungannya sendiri. Untuk merealisasikan atau mempermudah masyarakat dalam mengakses asuransi yang dicanangkan, masyarakat akan diberikan Kartu Bebas Sampah (KBS). Melalui kartu sampah, akan ada jaminan dari hasil pengelolaan sampah berupa asuransi kesehatan, dan pendidikan. Jika ada masyarakat yang tidak mampu membiayai pendidikan anaknya,maka mereka akan terbantu dengan  menujukkan kartu sampah yang dimiliki. Begitu juga dengan masalah kesehatan. Tidak hanya masalah kesehatan dan pendidikan, secara tidak langsung pengelolaan sampah tersebut juga akan berdampak pada dunia pariwisata karena kebersihan merupakan daya tarik utamanya.

Mengingat destinasi wisata Kabupaten Lombok Timur yang tidak kalah indahnya dengan kabupaten lain yang ada di NTB mulai dari pantai hingga panorama pegunungannya, membuat angka wisatawan semakin tinggi yang pada ujungnya dapat memicu permasalahan sampah. Sebagai contoh, tahun lalu sempat tercuat di beberapa media tentang permasalahan sampah di Gunung Rinjani yang tidak kunjung menemui solusinya. Jutaan ton sampah menghiasi keindahan alamnya. Jadi, jika sampah ini dikelola dengan baik maka senyum kesejahteraan masyarakat akan terlihat, dan kelestarian alam pun terjaga

Saya sependapat dengan apa yang diungkapkan oleh Habibi. Secara individu maupun kelembagaan, permasalahan sampah sangat penting untuk selalu dituntaskan.  Mulai dari hal sederhana seperti memberikan arahan untuk membuang sampah pada tempatnya hingga bagaimana tata kelolanya. Tidak hanya sebatas membuang sampah pada tempatnya yang perlu dipikirkan adalah dibawa kemana dan akan diapakan sampah yang sudah terkumpul pada tong-tong yang disediakan. Jika hanya sebatas membuang sampah pada tempatnya, saya rasa ini bukan menjawab sebuah persoalan mengatasi sampah, tapi perlu adanya inovasi yang harus dilakukan. Dari hal sepele mampu mengubah peradaban. [SR]

2 thoughts on “ALI HABIBI, CALON BUPATI LOTIM PEDULI SAMPAH

  • April 21, 2018 at 7:28 pm
    Permalink

    Wow….
    Ku pikir akan sampai pemungutan sampah tiap desa, namun akan diolah sampai tuntas.

    Harus terealisasikan.

    Reply
    • April 22, 2018 at 11:42 pm
      Permalink

      Kami punya osamtu (olah sampah sampai tuntas), yang gagas adalah dosen ilmu tanah dan kak habibi terlibat dengan hal tersebut

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *