ALI BEDE DAN ANGIN NTB

Siapa yang tidak kenal dengan sosok ini. Mulai dari sikap hingga tindakannya yang penuh kontroversi. Sosok yang tidak pernah lepas dengan style kacamata hitamnya seringkali membuat pernyataan yang memancing reaksi banyak orang. Tidak hanya mengundang komentar pedas warganya, juga menarik orang luar untuk berkomentar.

Masih tersimpan dalam ingatan, ketika tahun 2016 saat ada wacana pengerukan pasir laut Lombok Timur bagian selatan yang dimulai dari perairan Labuan Haji hingga Jerowaru? Banyak pihak yang mempertanyakan termasuk dari kalangan nelayan. Dengan adanya rencana yang dikeluarkan oleh sang bupati (Ali BD) menuai keritik dari kalangan nelayan yang mulai risau akan kehilangan mata pencaharian  utama mereka.

Bukan hanya pihak nelayan saja yang mempertanyakan, tapi juga para aktivis lingkungan. Kehkhawatiran banyak pihak ini melatarbelakangi kritik yang dilontarkan ke Ali BD. Demonstrasi besar-besaran yang terjadi pada tanggal 27 Januari 2016 pun digelar. Demonstrasi yang diikuti oleh ribuan nelayan dan pemerhati lingkungan ternyata tidak disambut baik oleh Bapak Bupati (Ali BD).

Gas airmata pun tidak tanggung-tanggung ditembakkan oleh aparat ke semua demonstran yang sedang duduk manis menyimak isi orasi yang tengah disampaikan oleh sang orator. Lebih parahnya, tak ada angin tak ada hujan. Hanya ada suara kesakitan yang ternyata bersumber dari para demonstran yang dihujani pukulan menggunakan pentungan oleh pihak aparat. Sadis, bukan? Namun yang menarik adalah, meskipun para demonstran diperlakukan sekelas perlakuan buruk terhadap binatang, tidak ada sedikitpun rasa gentar di hati mereka untuk berhenti menyuarakan niatannya dan sesegera mungkin ingin bertemu dengan ‘Sang Pendobrak’ yang tidak lain adalah Kakeq Ali.

Usut punya usut, ternyata pasir laut Lombok Timur akan digunakan untuk mereklamasi Teluk Benoa yang ada di Propinsi Bali. Melalui beberapa investor reklamasi Teluk Benoa yang rencananya akan dijadikan sebagai daratan yang ditumbuhi oleh beton-beton yang bernilai tinggi yang hanya diperuntukkan oleh orang-orang berduit. Mana mungkin sekelas saya bisa menikmati tidur empuk diatas tanah hasil reklamasi.

Sebenarnya, masyarakat Bali sendiri pada umumnya menolak rencana reklamasi tersebut. Dan bahkan terlihat di dunia maya, mereka lebih aktif menolak rencana reklamasi ini. Akan tetapi, entah apa yang melatarbelakangi pemerintah Bali sehingga reklamasi tersebut direncanakan. Padahal yang kita tau, daratan Bali masih terbilang luas.

Penolakan demi penolakan bermunculan hingga adu argumen antarpemerintah, baik pihak pemerintah Lotim dalam hal ini Bupati, dengan Gubernur tak terhindarkan layaknya debat kusir. Namun sangat disayangkan, debat itu tidak menjawab keresahan semua pihak yang menolak reklamasi melainkan hanya sebatas saling lempar omongan melalui lembaran kertas media. Dan bahkan Gubernur NTB mulai melunak akan hal ini, dan terkesan meng iyakan.

Dari sekian kalimat yang dilontarkan Ali BD untuk menepis isu pengerukan ini, ada yang ‘lucu’ dari pernyataannya. Media.iyaa.com menyantumkan “Bupati Lombok Timur yang punya pasir, kan? Kita masih punya kewenangan, angin juga saya mau jual ya kalau ada pembeli supaya makmur rakyat kalau ada investor angin. Apanya yang ditolak? Kita belum menjual. Menjual pasir boleh, tapi jangan dikeruk, tapi disedot, jadi ingat bukan mengeruk, bisa nggak dia menyedot, kalau ndak bisa ya tidak bisa”. Cerdas kan Kakek Ali? Angin saja mau dijual. Ingat ya teman-teman pasir lombok itu bukan di keruk, tapi disedot hahahaha. Kebayang tidak nyedot pasir laut tapi tidak berbahaya bagi ekosistem yang ada seperti terumbu karang, ikan dan makluk lain nya yang ada di perairan laut.

Saya baru kepikiran benar juga ya perkataan Kakek Ali, seandainya udara bisa dijual, ngapain kita bertani toh juga hasil pertanian sering dipermaikan dengan harga yang tidak wajar, ngapain melaut toh juga pasir laut mau disedot, ngapain bantuin orang toh juga itu tugas dari pemerintah. Enak to…jadi penduduk Lombok Timur.

Komentar sana sini mulai bermunculan maklum lah di jaman now ini, warganet lagi semangat-semangatnya jadi komentator di dunia maya. Ada yang pro dan ada yang kontra.

Ingatan akan tragedi ini memaksa saya untuk mulai menelisik pikiran saya dengan sebuah pertanyaan, seandainya Kakek ALI BD jadi Gubernur, masih ada niatan tidak untuk menjual angin?. Apalagi si Kakek sudah jauh-jauh hari memasang badan untuk ikut tampil dalam ajang pesta demokrasi yang terbesar di daratan Propinsi Nusa Tenggara Barat melalui jalur independen.

Kembali pada persoalan angin. Propinsi NTB menurut situs pemerintahan (setkab.go.id) menyatakan bahwa Propinsi ini memiliki potensi kecepatan angin yang bagus dengan kecapatan anginnya 5 meter perdetik, ini artinya angin di NTB berpotensi menghasilkan uang. Makanya tidak heran jika Ali BD ingin menjual angin. Angin yang dimaksukan Ali BD hanya angin secara umum tanpa memikirkan tujuan peruntukan angin tersebut, apakah dijadikan pembangkit listrik atau di jual begitu saja.

Jika dijadikan pembangkit saya meyakini semua daerah akan kebagaian listrik, terlebih daerah selatan Lombok akan surplus energy listrik. Apalagi daerah selatan memiliki kecepatan angin diatas rata-rata daerah di Lombok. Tapi sangat disayangkan, pernyataan Ali BD tentang penjualan angin masih umum, sehingga memaksa setiap orang untuk mengartikan maksudnya. Hanya Tuhan dan Ali BD yang tau.

Seandainya ada investor yang melirik angin di NTB, bisa ditebak suatu saat NTB menjadi pusat studi masyarakat dunia, baik secara teknologi maupun ekonomi, karena mampu menjamin kesejahteraan masyarakatnya melalui angin. Dan tidak sampai di situ, angin atau udara yang bergerak yang bercampur dengan pekatnya emisi gas rumah kaca secara tidak langsung akan berkurang dan bahkan tidak lagi, jadi tidak perlu pusing memikirkan emisi yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia.

Dan pada akhirnya persolan pengerukan pasir dan penjualan angin hingga saat ini, tidak lagi terdegar suaranya. Harapan saya selaku masyarakat supaya rencana pengerukan ini tidak dilakukan dan jika bisa daerah Selat Alas yang sejak awal diperuntukkan sebagai tempat aktivitas nelayan tidak disalah gunakan peruntukannya. [SR]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *